Saturday, October 12, 2019

PENGEMBANGAN EKSTRAKURIKULER PAI DI SEKOLAH DASAR



PENGEMBANGAN EKSTRAKURIKULER PAI  DI SEKOLAH DASAR
UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI SISWA   
BIDANG AKADEMIK DAN NON-AKADEMIK
(Studi Kasus di SD Negeri Debong Kidul Kota Tegal)



BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang

Pendidikan mempunyai peran sangat besar dalam membangun dan mengembangkan potensi peserta didik. Dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 3 dinyatakan, “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnnya potensi peserta didik peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.” Di samping itu, pada pasal 4 ayat (4) dinyatakan bahwa pendidikan diselenggarakan dengan memberi keteladanan, membangun kemauan, dan mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses pembelajaran. Pendidikan diharapkan dapat menyiapkan peserta didik memiliki ketahanan diri untuk mempertahankan eksistensi, kepribadian, dan keunggulan moralnya di tengah kemajemukan budaya dan nilai-nilai dari bangsa lain.Agar saat memasukiera global bangsa kita mempunyai ketahanan sikap yang kuat, maka dapat dipersiapkan dengan pendidikan.


Proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Sekolah Dasar secara umum diberikan melalui dua kegiatan yaitu intrakurikuler dan ekstrakurikuler. Baik melalui kegiatan intrakurikuler maupun kegiatan ekstrakurikuler, sebenarnya pembelajaran Pendidikan Agama Islam dinilai telah berjalan, tetapi pelaksanaannya masih belum optimal disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu:
1.    Alokasi waktu untuk kegiatan pembelajaran mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dalam kurikulum terbatas;
2.    Proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam di kelas perlu mendapat pengembangan potensi, dan akhlak mulia belum sepenuhnya mempengaruhi peserta didik;
3.    Guru Pendidikan Agama Islam di sejumlah sekolah belum mendapatkan dukungan secara sistemik dalam pembentukan akhlak mulia peserta didik;
4.    Faktor lingkungan masyarakat dan lingkungan keluarga juga sering menjadi kendala bagi keberhasilan penyelenggaraan Pendidikan Agama Islam di sekolah;
5.    Secara umum Sekolah Dasar telah melaksanakan program ekstrakurikuler Pendidikan Agama Islam, namun belum sepenuhnya menyusun program/panduan pelaksanaan sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Standar Pengelolaan;
6.    Pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler Pendidikan Agama Islam di Sekolah Dasar kurang terintegrasi dengan kegiatan keagamaan di masyarakat;
7.    Belum semua sekolah dasar mengembangkan sistem evaluasi kegiatan ektrakurikuler Pendidikan Agama Islam;
8.    Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi tidak sepenuhnya berdampak positif pada pembinaan akhlak mulia peserta didik.
B.       Tujuan Ekstrakurikuler
Kegiatan Ekstrakurikuler Pendidikan Agama Islam di Sekolah Dasar bertujuan sebagai berikut:
1.    Meningkatkan keimanan, ketakwaan dan akhlak mulia peserta didik.
2.    Meningkatkan pemahaman, penghayatan dan pengamalan ajaran agama Islam dalam kehidupan sehari-hari peserta didik.
3.    Menumbuhkan keingintahuan peserta didik terhadap hal-hal baru dan mendorong mereka untuk lebih bereksplorasi dalam membangun kepercayaan diri.
4.    Mendorong dan membiasakan peserta didik dalam pembinaan akhlak mulia sesuai dengan nilai-nilai ajaran agama Islam.
5.    Menumbuhkembangkan potensi, minat dan bakat yang dimiliki peserta didik berkaitan dengan kegiatan keagamaan.
6.    Memfasilitasi minat dan bakat peserta didik serta memberikan kesempatan untuk berlatih dan berkarya dalam bidang keagamaan.
7.    Meningkatkan kedisiplinan diri dan pemanfaatan waktu di luar jam pembelajaran.
8.    Meningkatkan peran keluarga, sekolah, dan masyarakat untuk membina kehidupan keagamaan peserta didik dalam kehidupan sehari-hari.
9.    Meningkatkan efektivitas dan efisiensi pendayagunaan sarana prasarana peribadatan, sumberdaya, dana, dan waktu untuk kehidupan keagamaan di sekolah.
10.     Memberikan konsep dasar dan pola tindak dalam menyelenggarakan program ekstrakurikuler yang lebih sesuai dengan tuntutan, kondisi, dan situasi sekolah.
11.     Meningkatkan peran dan fungsi guru PAI dalam mendidik peserta didiknya agar tercapai standar kompetensi yang diharapkan.
C.      Manfaat
Kegiatan ekstrakurikuler Pendidikan Agama Islam yang diselenggarakan Sekolah Dasar diharapkan bermanfaat bagi peserta didik, pengembangan kurikulum, sekolah, maupun bagi masyarakat luas. Secara terinci manfaat kegiatan ekstrakurikuler sebagai berikut:
1.    Bagi peserta didik:
a.    Memberikan kesempatan kepada peserta didik bagipemantapan ketertarikan dan keterikatannya terhadap nilai-nilai agama Islam.
b.    Memberikan kesempatan kepada peserta didik dalam melatih dan mengamalkan nilai-nilai agama Islam yang diterima di bangku kelas.
c.    Memberikan kesempatan kepada peserta didik berlatih secara praktis dalam hal kepemimpinan, persahabatan, kerjasama, dan kemandirian
d.   Membangun semangat dan mentalitas belajar dan bersekolah.
e.    Memberikan ruang pengembangan diri bagi peserta didik yang berorientasi pada pembentukan manusiaCerdas Spiritual, Emosional, Sosial, Intelektual, Kinestetis dan Estetis.
f.     Memberikan kesempatan bagi peserta didik berinteraksi dalam kehidupan bermasyarakat.
g.    Menumbuhkan sikap kreatif dan inovatif peserta didik dalam pengembangan diri.
2.    Bagi pengembangan kurikulum :
a.    Memperkaya materi kurikulum pendidikan agama Islam di sekolah dasar.
b.    Mengeksplorasi pengalaman belajar baru yang menunjang kurikulum.
3.    Bagi masyarakat:
a.    Membantu masyarakat dalam mewujudkan generasi berakhlak mulia.
b.    Tersedianya kegiatan keagamaan di sekolah dasar yang memenuhi harapan dan kebutuhan masyarakat.
4.    Bagi sekolah :
a.    Membantu promosi sekolah pada masyarakat.
b.    Meningkatnya daya saing sekolah.
c.    Tumbuhnya budaya sekolah yang berorientasi akhlak mulia.
d.   Meningkatnya partisipasi stakeholder dalam kegiatan ekstrakurikuler Pendidikan Agama Islam.
D.      Hasil yang diharapkan/Output
Hasil yang diharapkan dari kegiatan Ekstrakurikuler Pendidikan Agama Islam di Sekolah Dasar adalah:
1.    Peserta didik mempunyai ruang yang lebih luas untuk memberdayakan dan mengembangkan potensi, minat serta  bakat yang dimilikinya.
2.    Peserta didik mempunyai sikap disiplin, kerjasama dan kepedulian terhadap berbagai permasalahan.
3.    Meningkatnya kemampuan dan keterampilan peserta didik untuk berkreasi sesuai dengan potensi, minat serta  bakat yang dimilikinya.
4.    Diharapkan peserta didik melatih dirinya agar benar-benar mampu memerankan dirinya dalam kehidupan sosial.


BAB II
KONSEP PENGEMBANGAN KEGIATAN EKSTRAKURIKULER PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
DI SEKOLAH DASAR

A.      Pengertian Ekstrakurikuler PAI
Pengertian ekstrakurikuler menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002) adalah suatu kegiatan yang berada di luar program yang tertulis di dalam kurikulum seperti latihan kepemimpinan dan pembinaan peserta didik. Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 39 Tahun 2008 tentang Pembinaan Kepeserta didikan, kegiatan ekstrakurikuler merupakan salah satu jalur pembinaan peserta didik. Kegiatan ekstrakurikuler yang diikuti dan dilaksanakan oleh peserta didik baik di sekolah maupun di luar sekolah, bertujuan agar peserta didik dapat memperkaya dan memperluas diri. Memperluas diri ini dapat dilakukan dengan memperluas wawasan pengetahuan dan mendorong pembinaan sikap dan nilai-nilai.
Kegiatan ekstrakurikuler adalah kegiatan pendidikan diluar mata pelajaran yang sudah terstruktur dan terjadwal. Sedangkan pendidikan melalui mata pelajaran yang terstruktur dan terjadwal sesuaidengan standar isi, termasuk kegiatan intrakurikuler.  Adapun kegiatan ekstrakurikuler PAI di sekolah adalah kegiatan pembelajaran Pendidikan Agama Islam yang dilakukan diluar jam pelajaran intrakurikuler, yang dilaksanakan disekolah atau diluar sekolah untuk lebih memperluas pengetahuan, wawasan, kemampuan, meningkatkan dan menerapkan nilai pengetahuan dan kemampuan yang telah dipelajari dalam kegiatan intrakurikuler yang dituangkan dalam Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar. Pengertian ekstrakurikuler yang terdapat pada Peraturan Menteri Agama Nomor 16 tahun 2010 bahwa kegiatan ekstrakurikuler adalah upaya pemantapan dan pengayaan nilai-nilai dan norma serta pengembangan kepribadian, bakat dan minat peserta didik pendidikan agama yang dilaksanakan di luar jam intrakurikuler dalam bentuk tatap muka atau non tatap muka.
B.       Pendekatan dan Metode Pengembangan Ekstrakurikuler PAI
1.    Pendekatan
Dalam pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler PAI dapat digunakan beberapa pendekatan sebagai berikut.
a.       Pendekatan Among
Yaitu pendekatan berdasar pada filsafat pendidikan bangsa yang mengandung tiga prinsip pembimbingan, yaitu:
Ing ngarso sung tulodo, berarti pembimbing harus mampu menjadi panutan/suri tauladan (uswatun hasanah) bagi para peserta didik baik dari segi moral, kepemimpinan, sikap maupun keterampilannya.
Ing madyo mangun karso, berarti pembimbing dituntut agar senantiasa dapat menumbuhkan semangat dan motivasi di antara para peserta didik untuk memiliki sikap hidup mandiri.
Tut wuri handayani, berarti pembimbing turut mengarahkan dan mengayomi para peserta didik dalam suasana yang penuh dengan kasih sayang.
b.      Pendekatan Kekeluargaan dan Sosial Kemasyarakatan
Yaitu bahwa dalam kegiatan ekstrakurikuler PAI di SD diterapkan sistem kekerabatan, kebersamaan sebagai satu keluarga besar yang saling menunjangdengan mengembangkan kehidupan duniawi clan ukhrawi. Melalui pendekatan ini diharapkan agar para peserta didik semakin menyadari pentingnya saling menghargai, saling membantu (gotong royong) serta berbagi tugas dan tanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari.
c.       Pendekatan Keterampilan Proses
Yaitu bahwa dalam penyampaian materi menekankan pada pembentukan keterampilan pengetahuan dengan menggunakan daya fikir dan kreasi secara efisien dan efektif untuk mencapai tujuan. Dengan pendekatan ini para peserta didik diharapkan memiliki kemampuan mengidentifikasikan, mengklasifikasikan, menghitung, mengukur, mengamati, mencari hubungan, menafsirkan, menyimpulkan, menerapkan, mengkomunikasikan, dan lebih jauh lagi dapat mengekspresikan diri ke dalam suatu karya/perilaku.
d.      Pendekatan Pengalaman
Yaitu untuk memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk melaksanakan praktik ajaran agama. Melalui pendekatan ini peserta didik mendapatkan pengalaman keagamaan, baik secara perseorangan maupun berkelompok. Nilai-nilai positif dari pengalaman keagamaan ini diharapkan dapat tertanam kuat dalam dirinya.
e.       Pendekatan Pembiasaan
Yaitu untuk memberikan kesempatan atau mengkondisikan kepada peserta didik agar terbiasamengamalkan ajaran agamanya dalam kehidupan sehari-hari.
f.       Pendekatan Emosional
Yaitu untuk menggugah emosi peserta didik dalam meyakini, memahami dan menghayati ajaran agama. Melalui pendekatan ini peserta didik dilatih untuk mengembangkan perasaan keagamaan sedemikian rupa sehingga bertambah kuat keyakinannya, baik itu terhadap kebenaran Allah dan kebenaran ajaran agama-Nya.
g.      Pendekatan Rasional
Yaitu untuk memberikan peranan kepada rasio (akal) peserta didik dalam mengetahui dan menerima kebenaran ajaran agamanya. Dengan pendekatan ini peserta didik diberi kesempatan menggunakan akalnya dalam memahami dan menerima kebenaran ajaran agama termasuk memahami hikmah dan fungsi ajaran agama. Mengingat daya nalar peserta didik pada usia SD ini sudah mulai berkembang, pendekatan rasional perlu mendapatkan porsi yang sesuai dalam pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler PAI di sekolah.


h.      Pendekatan Fungsional
Yaitu untuk menyajikan ajaran agama Islam dari segi kemanfaatannya bagi peserta didik dalam kehidupan sehari-hari. Dengan pendekatan ini peserta didik akan lebih meyakini dan menyadari bahwa ajaran agama Islam sangat bermanfaat sebagai pedoman hidup dan kehidupan sehari hari.
2.    Metode
Dalam proses kegiatan ekstrakurikuler PAI di SD dapat digunakan berbagai metode yang mendukung penguatan mental agama, proses pemahaman diri, penghayatan, pelatihan, internalisasi dan penerapan dalam kehidupan sehari-hari peserta.
Untuk memilih metode yang tepat seorang pembimbing hendaklah memperhatikan tujuan yang ingin dicapai, karakteristik materi, kondisi peserta didik, sarana dan prasarana, waktu yang tersedia serta kondisi­kondisi lainnya.
Beberapa alternatif metode yang dapat digunakan dalam proses kegiatan ekstrakurikuler PAI pada jenjang SD adalah sebagai berikut.
a.        Metode Ceramah
Metode ceramah adalah suatu cara mengajar atau penyajian materi melalui penuturan dan penerapan lisan oleh pembimbing kepada peserta agar peserta aktif dalam proses belajar mengajar. Melalui metode ini peserta dilatih untuk memahami sesuatu dengan cara menyimak atau merekam secara sistematis.
Metode ceramah akan lebih bermanfaat dalam kegiatan ekstrakurikuler PAI apabila digunakan pembimbing secara langsung untuk menanamkan pemahaman materi atau materi lainnya yang langsung dapat diserap dan dapat dipraktikkan peserta.
b.        Metode Tanya Jawab
Metode tanya jawab dapat dikembangkan untuk terjadinya komunikasi timbal balik antara peserta dengan pembimbing dan memperluas cakrawala berfikir atas berbagai persoalan yang berkembang. Melalui tanya jawab, akan dapat dikurangi kesan adanya pemaksaan konsep materi. Selain itu peserta didik akan dapat menanyakan hal-hal yang belum jelas.
Metode tanya jawab akan menjadi lebih efektif apabila:
1)   Materinya menarik dan menantang, serta memiliki nilai aplikasi tinggi.
2)   Pertanyaan bervariasi, meliputi pertanyaan tertutup (pertanyaan yang jawabannya hanya ada satu kemungkinan) dan pertanyaan terbuka (pertanyaan yang mempunyai banyak kemungkinan jawaban).
3)   Jawabanpertanyaanitu diperoleh dari penyempurnaan jawaban peserta didik.
4)   Dilakukan dengan teknik yang baik.
c.         Metode Diskusi
Metode diskusi adalah suatu cara penyampaian materi melalui pengajuan suatu topik yang kemudian dibahas bersama-sama. Melalui metode ini, peserta didik dituntut untuk berpikir kritis dan mempunyai kesempatan untuk mengungkapkan gagasannya secara terbuka.
Diskusi dapat dilakukan secara kelompok atau klasikal. Suatu diskusi dinilai menunjang keaktifan peserta bila melibatkan semua anggota diskusi; contoh tentang wudhu dan salat, akhlak terhadap orang tua atau sesama teman, dan sebagainya.
d.        Metode Cerita
Metode cerita dianggap efektif untuk pewarisan nilai kebenaran dan keteladanan tokoh­tokoh Islam dan perjuangannya kepada para peserta didik, contoh: kisah Nabi Muhammad sebelum dan sesudah menjadi rasul, serta kisah Nabi dan Rasul lainnya, kisah para sahabat Nabi, kisah para penegak agama Islam, dan sebagainya.
Di samping itu metode ini sangat bermanfaat, antara lain:
1)   Untuk membina dan mengembangkan kemampuan (daya) fantasi peserta.
2)   Pelajaran dapat dihidangkan dengan lebih menarik.
3)   Untuk mendidik para pesert menjadi pendengar yang baik.
4)   Ada kepuasan batiniah bagi peserta.
e.         Metode Sosiodrama
Peserta didik dapat dilatih melakukan suatu aktivitas sosial melalui metode sosiodrama. Masing­masing peserta didik diberi peranan untuk menghayati materi yang sedang dipelajari, seperti: peranan sebagai kiyai/ulama, orang tua, anak dan lain-lain.
f.         Metode Demonstrasi
Agak berbeda dengan bermain peran, pada metode demonstrasi peserta diminta untuk melakukan suatu kegiatan peragaan/praktik, seperti: tata cara berwudhu, salat, memakai mukena, memakai kerudung/busana muslim, manasik haji, dan sebagainya.
Metodedemonstrasiakanmenunjang pembelajaran aktif apabila demontrasi dilakukan oleh peserta atau sekelompok peserta, dan pembimbing hanya memberikan pembetulan dan pengarahan hasil peragaan yang dilakukan peserta.
g.        Metode Latihan (Drill)
Metode Latihan adalah suatu cara penyajian materi atau kegiatan yang dilakukan dengan cara berulang-ulang dan bersungguh-sungguh dengan tujuan untuk memperkuat dan menyempurnakan suatu kegiatan atau keterampilan agar peserta didik terbiasa melakukannya.
Latihan pembiasaan hidup keseharian dengan berlandaskan agama adalah hal utama dan perlu; seperti pembiasaan menqucapkan salam, pembiasaan ibadah salat (wajib dan sunah), mengucapkan kalimat-kalimat tayyibah, berperilaku akhlakul karimah dan sebagainya.
Keteladanan pembimbing dalam kegiatan ekstrakurikuler PAI sangat efektif untuk pembiasaan hidup beragama dan pembentukan perilaku bagi peserta, karena sebagian besar peserta didik pada usia SD masih suka meniru perilaku orang yang dianggap panutan dan biasa dilihat di lingkungan sekitarnya.
h.        Metode Kunjungan Lapangan/Karyawisata
Kunjunganlapanganataukaryawisataadalah kegiatan pendidikan yang realistik dan berguna untuk memperoleh pengalaman langsung masalah-masalah yang terdapat di lingkungan sekitar. Peserta didik akan sangat senang jika diajak untuk mengamati suatu obyekter tentu di masyarakat, seperti: pesantren, rumah sakit, panti yatim piatu, panti jompo, Yayasan Pendidikan Anak Cacat (YPAC), masjid yang bersejarah, atau tempat lainnya.
i.          Metode Pemberian Tugas
Penugasan kepada peserta akan dapat menambah keterampilan dan kemampuan praktis atas berbagai persoalan yang berkaitan dengan pengamalan nilai agama, seperti membuat laporan hasil kunjungan/silaturahmi atau tugas-tugas lainnya.

C.      Ruang Lingkup Kegiatan Ekstrakurikuler PAI
Kegiatan ekstrakurikuler bidang keagamaan pada sekolah dasar, mencakup:
1.         Interaksi dengan Kitab Suci al-Qur’an
Interaksi dengan kitab suci al-Qur’an merupakan proses bimbingan pengenalan, pemahaman, dan pengamalan isi al-Qur’an. Interaksi dengan kitab suci al-Qur’an dilakukan dalam rangka peningkatan kecintaan dan pengamalan kitab suci al-Qur’an itu sendiri.
2.         Ibadah
Kegiatan ibadah merupakan kegiatan ritual keagamaan yang dilakukan oleh peserta didik dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan bimbingan ibadah diharapkan dapat meningkatkan penghayatan pelaksanaan ibadah kepada Allah Swt.


3.         Pembiasaan Akhlak Mulia
Pembiasaan akhlak mulia merupakan proses pembinaan dan latihan pengamalan nilai-nilai keagamaan secara rutin. Kegiatan ini bertujuan membiasakan peserta didik berperilaku sesuai dengan ajaran agama Islam.
4.         Kegiatan Sosial/Aksi Sosial
Kegiatan sosial adalah pengembangan rasa simpati dan empati peserta didik melalui aksi-aksi nyata di lingkungannya. Kegiatan ini mengarahkan peserta didik untuk memiliki kepedulian terhadap sesama dan lingkungan sekitarnya.
5.         Penanaman Nilai Sejarah Keagamaan
Penanaman nilai sejarah keagamaan merupakan upaya menggali nilai-nilai sejarah keagamaan. Kegiatan ini membimbing  peserta didik dalam mengambil pelajaran dari peristiwa-peristiwa bersejarah, meneladani pelaku sejarah keagamaan, mengaitkannya dengan fenomena-fenomena sosial.

D.      Jenis Kegiatan Ekstrakurikuler PAI di SD

1.         Pembiasaan Akhlak Mulia (SALAM)
Pembiasaan adalah kegiatan ekstrakurikuler PAI yang dilakukan untuk pengembangan karakter (character building) keagamaan peserta didik pada tingkat SD, melalui penanaman nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan keseharian. Melalui kegiatan penibiasaan, diharapkan peserta didik memiliki karakter dan prilaku keseharian di sekolah, di rumah, dan di masyarakt senantiasa merefleksikan nilai-nilai dan norma ajaran agama Islam yang terpuji.
Beberapa kegiatan pembiasaan terpuji yang dapat dilakukan di sekolah, di rumah dan di masyarakat, antara lain: salat berjamaah, salat duha, tadarusan, baca do'a pada awal dan akhir pelajaran atau melakukan suatu pekerjaan, mengucapkan dan menjawab salam, menjaga kebersihan, menjaga kesehatan, berperilaku jujur, adil, memanfaatkan waktu luang untuk kebaikan, tolong menolong dan hormat antar sesama. Sekolah harus menciptakan budaya agamis, mulai dari penampilan profit fisik sekolah sampai kepada situasi kehidupan antar sesama guru, sesama murid, guru dengan murid, dengan pegawai, juga dengan lingkungan.

2.         Bina MAPSI (Mata Pelajaran dan Seni Islami)
Bina Mata Pelajaran dan Seni Islami adalah suatu ajang kompetensi peserta didik yang digagas oleh Kelompok Kerja Guru Pendidikan Agama Islam (KKG PAI) dari tingkat kecamatan sampai dengan tingkat Propinsi Jawa Tengah. Jenis ketrampilan yang dilombakan dibagi dalam dua kategori yaitu :
a.       Lomba Bidang Mapel PAI terdiri dari :
1)      Lomba Pengetahuan PAI
2)      Lomba Pengetahuan BTQ
3)      Lomba Ketrampilan Gerakan Bacaan Salat
4)      Lomba Ketrampilan Teknologi Informasi Islami
5)      Lomba Cerdas Cermat Terpadu Mapel PAI dan Mapel Umum
6)      Lomba Kewirausahaan Islami
7)      Lomba Ketrampilan Azan dan Iqamah
b.      Lomba Bidang Seni terdiri dari :
1)      Lomba Seni Musik dan Irama Rebana
2)      Lomba Seni Khat dan Kaligrafi
3)      Lomba Seni Tilawah Quran dan Hifzil Quran
4)      Lomba  Cipta Teks dan Seni Khitobah
5)      Lomba Cipta Teks dan Seni Bercerita Islami
6)      Lomba Mocopat Islami
3.         Pekan Keterampilan dan Seni PAI (PENTAS PAI)
Pekan Keterampilan dan Seni PAI (PENTAS PAI) SD adalah wahana kompetisi peserta didik dalam berbagai jenis keterampilan agama yang diselenggarakan mulai tingkat sekolah, gugus, kecamatan kabupaten/ kota, propinsi sampai dengan tingkat nasional. Jenis keterampilan yang dapat dilombakan antara lain: Musabaqah Tilawatil Qur'an, kaligrafi, hafalan surat pendek, pidato, cerdas cermat, hafalan do'a, menjadi imam, adzan, baca sajak, puisi, lomba mengarang, kesenian Islam dan lain-lain.
Kegiatan Pentas PAI, selain dapat berfungsi sebagai salah satu tolok ukur kompetensi dan prestasi peserta didik dibidang PAI dan wahana syiar Islam, juga untuk memotivasi peserta didik agar lebih bergairah mempelajari, memahami, mencintai dan mengamalkan nilai-nilai ajaran agama Islam.
4.         Pesantren Kilat (SANLAT)
Pesantren kilat adalah kegiatan pesantren yang dilaksanakan pada scat liburan sekolah, dengan waktu yang relatif singkat di bulan Ramadan atau di luar Ramadan. Pesantren Kilat disebut juga Pesantren Ramadan apabila dilaksanakan pada bulan Ramadan. Rentang waktu pelaksanaan Sanlat bisa 3, 5, 7 hari, atau lebih disesuaikan dengan kebutuhan.
Presiden RI dalam sambutan pencanangan pekan nasional penyelenggaraan Pesantren Kilat tahun 1996 tanggal 14 Juni 1996 di Istana Negara menyampaikan bahwa: Pesantren Kilat adalah penting dan strategis agar peserta didik memahami, lebih menghayati, dan makin banyak mengamalkan ajaran Islam yang mereka anut. Juga kelak mereka menjadi insan yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT serta berakhlak mulia dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
5.         Ibadah Ramadan (IRAMA)
Kegiatan Ibadah Ramadan (Irama) adalah salah satu kegiatan ekstrakurikuler PAI SD yang dilakukan selama bulan suci Ramadan, dengan durasi waktu mulai malam pertama salat tarawih sampai dengan kegiatan halal bi halal (bersalam-salaman saling maaf­maafan) yang dilaksanakan dalam nuansa perayaan hari raya Iedul Fitri.

Kegiatan ibadah bulan suci Ramadan antara lain meliputi: salat wajib, salat tarawih, salat sunat lainnya, tadarrus, buka bersama, sanlat, zakat fitrah, santunan anak yatim, mendengarkan ceramah di masjid, mushalla di televisi dan lain sebagainya sampai dengan kegiatan halal bi halal.
Melalui kegiatan Ibadah Ramadan bagi peserta didik tingkat SD, diharapkan para peserta didik lebih memahami, menghayati dan makin banyak mengamalkan nilai-nilai ajaran Islam. Kegiatan ibadah Ramadan juga menjadi wahana bagi pembinaan watak, moral dan mental spiritual peserta didik sekolah, yang dapat membantu mewujudkan tercapainya tujuan penyelenggaraan PAI. Untuk teknis pelaksanaannya, bisa menggunakan buku panduan pelaksanaan ibadah Ramadan, yang dibuat oleh sekolah, KKG-PAI, Kanmenag atau Kanwil Kemenag Provinsi.
6.         Tuntas Baca Tulis Al-Qur'an (TBTQ)
Tuntas Baca Tulis Al-Qur'an (TBTQ)salah satu kegiatan ekstrakurikuler PAI-SD yang wajib diselenggarakan dalam rangka memberikan kemampuan membaca dan menulis al-Qur'an dengan baik dan benar. Kemampuan membaca dan menulis al-Qur'an merupakan keterampilan dasar yang harus dimiliki oleh setiap orang yang beragama Islam, karena akan berfungsi sebagai alat untuk mengetahui, memahami, menghafal, dan mempelajari agama Islam baik yang bersumber dari al-Qur'an maupun Hadits. Karena itu, belajar membaca dan menulis al-Qur'an perlu diselenggarakan secara khusus, di samping pembelajaran intrakurikuler, sehingga diharapkan peserta didik yang lulus dari sekolah tidak buta membaca dan menulis al-Qur'an. Setiap peserta yang telah selesai dan lulus dari jenjang pendidikannya, diharapkan selain memperoleh ijazah dan tanda lulus, juga memperoleh Sertifikat TBTQ.
Pelaksanaan kegiatan TBTQ antara lain bisa ditempuh melalui cara:
1.    Orang tua peserta didik mewajibkan anaknya mengaji di rumah, privat al-Qur'an atau mengaji di Madrasah Diniyah.
2.    Guru PAI mengadakan program khusus belajar membaca dan menulis al-Qur'an di sekolah, di luar jam pelajaran dengan metode yang tepat.
3.    Sekolah melalui guru PAI mengadakan program khataman, dengan mengadakan acara khusus (upacara) di sekolah bagi peserta yang telah khatamdengan bacaan yang baik dan benar sekaligus pemberian Sertifikat TBTQ.
7.         Wisata Rohani (WISROH)
Wisata Rohani adalah salah satu kegiatan ekstrakurikuler PAI SD daiam bentuk out bound yang ditujukan sebagai wahana hiburan yang menyenangkan sekaligus memperoleh pengetahuan dan pengalaman religius yang bermanfaat. Dengan mengacu kepada pendekatan dan prinsip belajar aktif dan menyenangkan, perlu diadakan kegiatan wisata rohani bagi peserta didik pada tingkat SD untuk sekaligus menambah wawasan, pengetahuan, pengalaman, dan pengamalan keagamaan. Kegiatan wisata rohani, pada gilirannya diharapkan juga dapat menambah keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT.
8.         Peringatan Hari Besar Islam (PHBI)
Kegiatan Peringatan Hari Besar Islam (PHBI) adalah kegiatan memperingati Hari Besar Islam, dengan maksud syiar Islam sekaligus menggali arti dan makna dari suatu Hari Besar Islam. Hari Besar Islam yang dimaksud, antara lain; Maulid Nabi, Isra Mi'raj, Nuzulul Qur'an, dan Tahun Baru Islam atau bulan Muharram, Iedul Fitri dan Iedul Adha.
Agar kegiatan PHBI memiliki makna pembelajaran bagi peserta didik, maka pelaksanaan peringatan hari-hari besar Islam secara teknis sebaiknya dikelola oleh peserta didik dibawah bimbingan guru PAI, sedangkan penanggung jawabnya adalah Kepala sekolah. Dalam memperingati PHBI selain mengundang nara sumber yang berkompeten, sebaiknya menampilkan kegiatan kegiatan peserta didik di bidang keterampilan PAI, seperti MC, pidato, baca Qur'an dan tarjamahnya, baca do'a, dan kesenian Islam.

9.         Kegiatan Praktik Ibadah
Praktik ibadah merupakan implementasi yang merupakan bagian dari proses penyerahan diri kepada Allah Swt melalui upaya pembiasaan keterampilan meningkatkan kualitas peserta didik dalam melaksanakan komitmen terhadap ajaran Islam. Praktik ibadah yang bisa dilaksanakan di sekolah dasar diantaranya praktik berwudu, praktik tayamum, praktik salat, praktik memandikan, mengafani, menyalatkan, menguburkan jenazah, praktik zakat, praktik haji dan umrah, praktik muamalah dan lainnya.

No comments:

Post a Comment